Sesepuh dan Guru Besar Paguron Pencak Silat Tradisi dari “PS. ELANG PUTIH”. Dalam perjalanan panjang pencak silat tradisi, selalu ada sosok yang tidak hanya dikenal karena kemampuan dalam olah gerak dan bela diri, tetapi juga karena keteguhan memegang nilai, menjaga tata laku, serta mewariskan ilmu kepada generasi berikutnya.
Salah satu sosok tersebut adalah Tatang Romli Sudrajat. Bagi beliau, pencak silat bukan sekadar rangkaian jurus, gerakan, atau kemampuan membela diri. Pencak silat adalah jalan untuk membentuk manusia—menyatukan olah raga, olah rasa, olah pikir, dan olah budi dalam satu laku kehidupan.
Di lingkungan Paguron Pencak Silat Elang Putih, sosok Tatang Romli Sudrajat menjadi bagian penting dari perjalanan pewarisan nilai dan tradisi. Kedudukan sebagai Guru Besar tidak semata-mata dipandang sebagai sebuah gelar, melainkan sebagai amanah untuk menjaga marwah keilmuan, kehormatan paguron, serta keberlangsungan tradisi pencak silat.
Seorang guru sejati tidak hanya mewariskan bagaimana seseorang berdiri, melangkah, menghindar, menangkis, menyerang, atau memainkan jurus. Lebih dari itu, seorang guru mewariskan bagaimana seseorang bersikap, menghormati sesama, mengendalikan diri, dan menempatkan ilmu pada jalan yang benar.
Dalam filosofi kehidupan seorang pendekar, kekuatan bukanlah tentang seberapa mampu seseorang mengalahkan orang lain. Kekuatan yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk mengalahkan kesombongan dalam diri sendiri, mengendalikan amarah, menjaga kehormatan, dan menggunakan ilmu untuk kebaikan.
Karena itulah, perjalanan seorang Guru Besar seperti Tatang Romli Sudrajat tidak hanya dapat dibaca melalui gerakan-gerakan silat yang diwariskan, tetapi juga melalui keteladanan, kesabaran, keheningan seorang guru, dan nilai-nilai yang hidup dalam setiap proses pembelajaran.
Pencak silat tradisi memiliki kekayaan yang tidak hanya terletak pada teknik, tetapi juga pada hubungan antara guru, murid, adat, budaya, rasa, dan tata kehidupan. Tradisi keilmuan semacam inilah yang menjadikan keberadaan seorang sesepuh memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan sebuah paguron.
Tatang Romli Sudrajat adalah bagian dari mata rantai pewarisan tersebut yang telah menciptakan gerakan-gerakan jurus seni Ibing Penca Kabogoran bersama sahabat tokoh lainnya dalam rangka mempersatukan seluruh paguron terutama di Kota Bogor dalam satu karya yang bisa dibanggakan.
Beliau berdiri bukan hanya sebagai guru yang mengajarkan ilmu, tetapi sebagai penjaga nilai dan marwah tradisi, sebuah peran yang menuntut keteladanan lebih tinggi daripada sekadar kepandaian.
Dalam setiap generasi, ilmu dapat berubah menjadi pengetahuan, pengetahuan dapat berkembang menjadi keterampilan, tetapi tanpa keteladanan, sebuah tradisi akan kehilangan ruhnya.
Maka keberadaan seorang sesepuh dan Guru Besar menjadi penting, karena dari merekalah generasi muda belajar bahwa pendekar bukan hanya tentang keberanian menghadapi lawan, tetapi juga tentang keberanian menjaga diri, menjaga adab, menjaga persaudaraan, dan menjaga warisan budaya leluhur.
Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan Paguron Pencak Silat Elang Putih dalam mempertahankan keberadaan pencak silat tradisi sebagai warisan budaya yang hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada akhirnya, nama Tatang Romli Sudrajat bukan sekadar nama seorang Guru Besar. Ia adalah sebuah representasi dari perjalanan keilmuan, ketekunan, pengabdian, dan tanggung jawab seorang sesepuh dalam menjaga warisan pencak silat tradisi. Sebab seorang guru mungkin akan berhenti mengajarkan ketika waktunya tiba, tetapi ilmu, nilai, dan keteladanan yang ditanamkan kepada murid akan terus berjalan melampaui usia seorang guru.
“Ilmu boleh diwariskan, jurus boleh diteruskan, tetapi adab dan keteladananlah yang membuat sebuah perguruan tetap memiliki ruh.”